Jasmine menggeleng pelan. Air matanya jatuh. Ruang kelas hening.
Sejak hari itu, Bu Ratna membuat peraturan baru di kelasnya: setiap pagi, sebelum absensi dimulai, semua siswa diminta menulis satu kata tentang perasaannya di selembar kertas kecil, tanpa nama. Lalu Bu Ratna mengumpulkannya. Bukan untuk dihukum, tapi untuk dibaca.
Di akhir semester, buku absensi biru tua itu sudah diganti dengan yang baru. Tapi halaman terakhir buku lama, yang berisi nama Jasmine sepanjang dua bulan terakhir, masih disimpan Bu Ratna di laci mejanya. Di samping setiap tanggal, ada titik-titik kecil yang baginya berarti: absensi jasmine
Bu Ratna menghela napas panjang. Ia menuliskan keterangan “S” (Sakit—keterangan untuk keluarga) dengan agak menekan. Di dalam hati, ia khawatir. Bukan hanya soal nilai, tapi tentang beban yang dipikul gadis seusia Jasmine.
Tapi di buku absensi, Bu Ratna tidak langsung menulis “H”. Ia menutup buku itu sejenak, lalu berbisik, “Nak, kamu kuat?” Jasmine menggeleng pelan
Dan Jasmine? Ia lulus dengan nilai yang biasa saja, tapi ia tumbuh menjadi wanita yang kelak, di tempat kerjanya, akan selalu memperhatikan rekan yang paling sunyi, dan diam-diam menuliskan titik kecil di hatinya untuk mereka. Absensi bukan sekadar catatan hadir atau tidak. Kadang, di balik sebuah nama, ada kisah yang butuh dilihat, bukan sekadar dicoret.
“Ibu tahu kamu sedang berat,” kata Bu Ratna kemudian, suaranya lembut tetapi tegas. “Tapi kehadiranmu di sini bukan hanya untuk absensi. Kamu punya teman-teman, punya ibu guru yang peduli. Kalau capek, jangan ragu bilang.” Sejak hari itu, Bu Ratna membuat peraturan baru
Suatu Senin pagi, hujan deras mengguyur kota. Bu Ratna sudah siap dengan pulpen merahnya. “Jasmine,” panggilnya, tanpa perlu menengok ke bangku kosong di pojok belakang. “Hari ini izin lagi?”